Oleh: sinartapanuli | April 28, 2011

RENTAL MOBIL BALIGE

Bagi anda yang ingin merental mobil di kawasan toba samosir…

hubungi:

Patar Nadapdap

Alamat: Jalan Pierre TandeanLumban Panjaitan Balige – Tobasa

HP 082166400420

Oleh: sinartapanuli | Oktober 14, 2009

Pesta Danau Toba

Pesta Danau Toba Sepi

PARAPAT – SINTA

Pesta Danau TobaPesta Danau Toba (PDT) 2009 yang digelar di Parapat, Kabupaten Simalungun  sepi. PDT yang dimulai Rabu (7/10) hingga Minggu (11/10) itu terkesan seperti hari – hari biasa yang tidak ada kegiatan. Padahal, PDT merupakan even nasional yang sudah masuk dalam kunjungan wisata Indonesia 2009.

Diawal pembukaan, jumlah pengunjung agak ramai karena kehadiran kontingan dan para pejabat dari Pemkab Simalungun, Toba Samosir, Samosir, Tapanuli Utara, Karo, Dairi, Humbang Hasundutan, Medan, P Siantar, Deli Serdang, Pakpak Barat, Provinsi Sumatera Selatan dan lainnya.

Sejumlah warga yang ditemui SINTA di Parapat, Sabtu (10/10), mengaku kecewa. Bahkan tim dari Sumatera Selatan, satunya-satunya propinsi yang ikut menjadi kontingen menilai PDT itu tidak sesuai harapan karena sebelumnya mereka mengira kalau PDT bakal diramaikan oleh propinsi lain.

Kekecewaan lainnya, datang dari para pedagang. Awalnya memang mereka sudah memprediksi pengunjung PDT 2009, tidak lebih dari peserta dan panitia saja. Karena pelaksanaannya di luar hari libur.

Pedagang dadakan boru Sirait mengatakan PDT terkesan tidak lebih dari hanya sekedar merepotkan sekaligus melelahkan tetapi tidak menguntungkan. “Kita repot mempersiapkan dagangan, tetapi kenyataannya pembelinya nihil,” ujar Boru Sirait.

Hal senada diungkapkan oleh para pengelola hotel dan restaurant. “Tingkat hunian kamar masih tetap seperti biasa. Padahal kita sudah repot-repot melakukan penataan,” ujar, seorang pemilik hotel yang tidak ingin namanya dikorankan.

Amatan SINTA, pada berbagai kegiatan yang digelar, pengunjung sangat minim. Yang hadir hanyalah panitia ditambah para wartawan yang sibuk melakukan peliputan. “Sepertinya, kita-kita ajalah yang disini. Memang panitia kurang publikasi dan waktunya kurang tepat,” celetuk Malau, seorang wartawan yang sengaja datang dari Medan.

Beberapa lomba yang digelar seperti lomba solu dan renang, memancing, tortor, volli pantai, pemilihan putri Danau Toba sepertinya kurang mampu menarik minat pengunjung. Suasana di sekitar stand pameran dari masing-masing Kabupaten yang dipusatkan di Convention Hall Harungguan sekitarnya juga sepi.

Lebih Ramai

Sementara itu, pada hari terakhir, Minggu (11/10) suasana sedikit lebih ramai. Ini memang sudah diprediksi sebelumnya, karena kebetulan hari itu adalah hari libur. “Ini buktinya kalau pelaksanaannya dilakukan hari libur,” ujar H Sinaga, penduduk Parapat. (thomson)

Oleh: sinartapanuli | April 28, 2011

Pencuri Ornamen Rumah Batak Marak


MUARA-SINTA

Kasus pencurian ornamen rumah tradisional Batak, berupa singasinga (ukiran bergorga Batak, biasanya ditempel di sisi kiri dan kanan rumah adat Batak, red), kini mulai marak. Dalah sehari 2 singasinga yang sudah berumur 2 abad lebih, hilang dari Desa Simatupang, Kecamatan Muara, Taput, tiga pekan lalu. Diduga, singa-singa itu digondol maling yang sudah profesional di bidangnya.

Salah satu pemiliknya adalah, Op Monang Sinaga, (53), warga Aek Parbue, Muara. Ketika ditemui dikediamannya, Jumat (19/2), Op Monang membenarkannya.

“Kejadiannya, mungkin tengah malam dan saat itu hujan lebat. Hilangnya ornamen tersebut kami ketahui esok harinya, dan pelaku juga meninggalkan kepala anjing yang dipenggal persis di tangga rumah, dan anjing tersebut ternyata milik warga disini,” katanya.

Op Monang menuturkan, bahwa Singasinga tersebut tingginya sekitar 1 meter dan matanya sebesar genggaman tangan orang dewasa, dan terpampang di sudut kiri kanan depan rumah dan umurnya sudah dua ratus tahunan lebih. “Begitu hilang langsung kita laporkan ke Polsek Muara,” imbuhnya.

Singasinga, yang sama dan ukurannya lebih kecil juga hilang dari rumah tradisional batak milik Op Enjel Sianturi (73), warga Lumban Panggung Simatupang. “Singasinga milik kami, lebih kecil. Besarnya setengah singasinga milik Op Monang,” katanya.

Op Enjel menuturkan bahwa sebelum kejadian hilangnya benda pusaka tersebut, beberapa orang tidak dikenal (OTK), kerap muncul disekitar rumahnya membawa senapan angin layaknya berburu burung. “Sebelumnya memang ada beberapa OTK berdalih berburu burung memasuki kampung ini. Jadi kita tidak begitu curiga karena lokasi tersebut kerap digunakan tempat berburu burung,” ujarnya.

Menurut Op Enjel, anjing yang mati juga ditemukan di depan rumahnya pasca hilangnya benda pusaka tersebut, mungkin sebagai ‘tumbal’ yang digunakan pelaku.

Kapolsek Muara, AKP Wilson Harianja, yang dihubungi melalui sellulernya, membenarkan kejadian hilangnya ornamen rumah batak tersebut. “Sementara ini kita sudah periksa saksi-saksi guna melakukan penelusuran dan personil juga sudah kita turunkan untuk melakukan pelacakan baik di Tobasa maupun di Humbahas,” pungkasnya. (Parlindungan Rajagukguk)

Oleh: sinartapanuli | Maret 1, 2010

Ulos Tenunan Khas Muara

Ulos Harungguan, Tenunan Khas Muara

MUARA – SINTA

Ulos Harungguan, yang coraknya mencerminkan semua corak ulos batak menjadi tenunan khas Muara, buah karya, Nurhaida br Siregar (52), warga pasar Muara Taput.

Disanggarnya yang sederhana, Op Ni Si Rodo Pakpahan, sebutan akrab Nurhaida ketika ditemui SINTA, sedang fokus menyelesaikan tenunannya yang sudah hampir rampung, Jumat (19/2).

Nurhaida, memulai karir bertenun semasa gadis, di ajarkan oleh gurunya mendiang, br Tobing, “kala itu kami yang menjadi muridnya ada 3 orang, dan sampai sekarang warisan bertenun ulos harungguan tersebut masih terus kami tekuni,” katanya.

Dituturkannya, bahwa spesifikasi ulos harungguan miliknya terdiri dari, ragi hotang, maratur toba, surisuri sanggar, ragi sikkam, ragi bintang, sibolang jauh, hait marsutsang, hait simullopmullop, bolean pisusaan, ragi biduan, sibolang oji, sopipot, mangiring, maratur, situturtutur, ragi idup, surisuri, gatipgatip, sibolang maratur, sitoltuho, ragi ambasang, dan simarpusoran. “Dalam tenunan, kesemua ciri tadi dapat ditemukan pada ulos harungguan ini,” katanya.

Dengan mengandalkan alat tenun warisan orang tuanya, Nuhaida yang dipersunting Darusman Pakpakhan (55) ini, diakhir tahun 80an mulai mandiri melakukan kreasinya, bertenun ulos. “Suami, ditambah dengan 4 tenaga paruh waktu, cukup membantu kami menyelesaikan proses pembuatan ulos,” ujarnya. Ditambahkannya, banyaknya tahapan dalam pembuatan ulos harungguan, mulai dari menggulung benang (mangkulhul-red) hingga penenunan, sanggarnya hanya mampu memproduksi 6 ulos setiap bulannya.

“Itupun kalau bahannya lengkap, dan sudah termasuk didalamnya lembur diatas jam kerja normal,” imbuhnya. Dilanjutkannya, ulos tenunan tersebut bisa dipesan untuk kain sarung atau jas, juga stelan lain sesuai pesanan. “Banyak yang sudah memesan, terlebih bila keluarga yang melakukan hajatan ingin terlihat elegan dengan penampilan seragam, sering menggunakan ulos harungguan atau sarungnya,” ujar ibu lima anak ini.

Disinggung tentang pemasaran, Nurhaida merasa bingung, hal tersebut wajar karena umumnya yang dikerjakan adalah pesanan, “Kalau tidak ada pesanan, toke kerap melirik produk kami, bahkan beberapa toke sudah melakukan inden (pembayaran dimuka), namun tidak terikat, artinya meskipun toke sudah inden, pesanan untuk pemakai langsung tetap menjadi prioritas kita,” pungkasnya.

Dikatakan, bahwa ulos harungguan banyak dipesan oleh perantau-perantau dari Jakarta, “umumnya perantau yang mengerti kualitas akan memesan, baik dari Jakarta maupun dari daerah lain, artis yang show di Muara juga ada yang memesan ulos ini, demikian juga camat, atau pejabat lain yang sering menggunakan ulos sebagai cendra mata, juga memesan ulos dari kami,” cetusnya.

Tahun lalu, sanggarnya dikunjungi desainer khusus industri pertenunan, Merdy Sihombing. “Merdy, juga memesan satu set selendang dan sarung, tapi, kita hanya menenun sedangkan bahan benangnya di sediakannya sendiri,” ujarnya.

Soal bahan, Nurhaida mengaku menemukan kendala karena keterbatasan modal. “Bahan kita beli dari Balige, namun karena keterbatasan modal pekerjaan bertenun sering terganggu, karena topangan hidup keluarga hanya mengandalkan pertenunan ini, termasuk biaya sekolah dan lainnya,” kilahnya.

Disinggung tentang permodalan dengan menggunakan kredit usaha dari bank, Dia hanya menggelengkan kepala, “hingga saat ini kita tidak mengerti apakah bisa mendapatkan pinjaman tersebut atau tidak, karena belum pernah kita lakukan. Kalau memang ada, jelas itu sangat membantu kami,” serunya.

Camat Muara, Gibson Siregar kepada SINTA mengaku akan berupaya membantu usaha pertenunan Nurhaida melalui pinjaman Kredit Usaha Rakyat (KUR). “Kita akan upayakan mereka mendapatkan bantuan tersebut guna mempertahankan dan mengembangkan usaha pertenunannya,” jelasnya. (Ringo)

Oleh: sinartapanuli | Maret 1, 2010

Pilkada Tobasa

Massa Fanatik Antar MONAS

* Monang Sitorus dan Mangatas Silaen Terharu

* Warga: Kami Datang Karena Simpatik

BALIGE – SINTA

Fanatisme masyarakat Toba Samosir terhadap pasangan bakal calon Bupati – Wakil Bupati Toba Samosir periode 2010 – 2015, St Drs Monang Sitorus SH MBA – Mangatas Silaen (MONAS), cukup luar biasa. Ini terlihat dari jumlah massa yang ikut hadir saat MONAS mendaftar ke KPU Toba Samosir, Rabu (17/2). Warga dari berbagai kecamatan dengan jumlah sedikitnya 5000 – an orang memadati jalan-jalan di Kota Balige untuk mengantarkan pasangan ini.

Pendaftaran MONAS diawali dengan kebaktian singkat di rumah dinas Bupati. Usai kebaktian, beberapa perwakilan menyampaikan dukungan terhadap MONAS. Seperti perwakilan pihak Hula-Hula Sonak Malela (Marpaung dan Simangunsong), pihak Nairasaon (marga Sitorus, Manurung, Sirait, Butar-Butar), Keturunan Tuan Sihubil (Tampubolon, Barimbing, Silaen) yang diwakili oleh Baktiar Tampubolon (mantan Wakil Ketua DPRD Tobasa) dan utusan lainnya serta acara ‘manjomput si pirni tondi’  (menepung tawari, red) kedua pasangan balon dan isteri oleh Ibunda DL Sitorus, Ompu Sabar boru Panjaitan.

Pengamatan SINTA, rombongan dari rumah dinas bupati menuju Lapangan Serba Guna HKBP Balige. Setibanya disana, MONAS dielu-elukan oleh ribuan massa yang sudah menunggu kehadiran balon sejak pagi. Sorak sorai dan pekikan “Hidup Monas !” serta yel-yel “Monas – Yes, Monas – Lanjutkan, Monas – Menang” menyambut kedatangan pasangan tersebut.

Jumlah massa yang hadir membludak. Monang Sitorus didampingi isterinya Intan DD boru Marpaung dan Mangatas Silaen bersama isterinya Rosma boru Simangunsong pun tak bisa menyembunyikan tampak kagum dan terharu melihat kerumunan massa tersebut.

“Terima kasih kepada masyarakat yang telah merelakan waktunya untuk hadir hari ini. Sungguh, kami sangat terharu dan tidak menduga kalau jumlah masyarakat yang hadir sampai sebanyak ini,” ujar Monang dengan mata berlinang.

Kemudian, sebelum berjalan kaki menuju KPU, rombongan diberangkatkan oleh Ompu Sabar boru Panjaitan dengan doa. “Tuhan berikanlah kesehatan, kebijaksanaan dan dan terang untuk semua apa yang kami lakukan hari ini. Restuilah langkah anak kami ini untuk mencapai cita-citanya. Tuntunlah … Bimbinglah dan Jagalah jiwa dan raganya. Restuilah permintaannya. Kasihanilah kami ya Tuhan. Amin,” pinta Ompu Sabar.

Usai berdoa, masyarakat pendukung fanatik bergerak bersama pasangan MONAS (masing-masing didampingi isteri) serta tim pemenangan, menuju KPU. Perjalanan sekitar 1 kilo meter.

Barisan terdepan adalah massa dari partai pendukung, disusul rombongan Ketua parpol di Tobasa seperti Sabaruddin Tambunan (PKB), Baktiar Tampubolon (PDK), Charles Pardede (PMB), Kalvin Tambun (Bendahara PDIP), Robert Pardede (PDP), Harry Siagian (Barnas), Wesly Sitorus (PNI Marhaenisme), para tokoh masyarakat, tokoh adat, pemuda, penampilan busana dari sejumlah etnis, simpatisan serta relawan lainnya.

Selama perjalanan ke dan dari KPU, lagu berjudul ‘MONAS Pilihanku’ terus mengumandang. Iring-iringan ini juga cukup mendapat antusias dari warga Kota Balige. Teriakan “Hidup MONAS!” dari warga sekitar membuat para pejalan kaki semakin ceria dan bersemangat.

Pengamatan lainnya, membludaknya massa pendukung yang melewati perkiraan sebelumnya, membuat arus lalu lintas di Kota Balige, macet. Sedangkan pengamanan oleh pihak Polres dipimpin langsung oleh Kapolres Tobasa, AKBP Musa Tampubolon. Polres juga mengerahkan petugas Samapta dan satuan polisi pamong praja.

DILUAR DUGAAN

Sementara itu sejumlah anggota tim pemenangan MONAS yang ditanyai mengemukakan, jumlah massa yang hadir sudah diluar dugaan. “Sebenarnya jumlah massa dari kecamatan dibatasi. Tetapi apa boleh buat, mereka (warga, red) hadir tanpa dikomando karena ingin mengantar MONAS. Jadi, kita tidak bisa melarang mereka, karena itu spontanitas dari mereka,” ujar Pollung Tambunan dan Welman Sianipar kepada SINTA secara tepisah.

Sejumlah warga yang hadir kepada SINTA mengaku mereka hadir didorong rasa cinta dan bangga terhadap pasangan Monang. “Kami tidak dibayar. Kami merasa simpatik dan kami datang kesini,” ujar sejumlah kaum ibu yang berasal dari Lumban Julu, Posea dan Laguboti.

Hal senada sebagai dukungan terhadap MONAS diungkapkan Ompu Parbarita Siahaan. “Saya melihat, saat ini Monas lah yang paling layak. Berpengalaman dan teruji. Kemudian membangun sebuah daerah tidak cukup lima tahun. Jadi saya datang untuk mendukung Monas ini,” ujar pria ini.

8 PARPOL

Di KPU, pasangan MONAS yang sebelumnya sudah terbukti didukung masyarakat dengan lolosnya verifikasi dukungan perseorangan ini, mendaftar melalui jalur parpol. MONAS diusung oleh 8 partai politik yaitu, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Demokrasi Kebangsaan (PDK), PNI Marhaenisme, Partai Demokrasi Pembaruan (PDP), Partai Karya Perjuangan (Pakar Pangan), Partai Barisan Nasional dan Partai Matahari Bangsa (PMB).

Melihat hasil pemilu legislatif 2009 lalu, jumlah suara sah dari 8 parpol tersebut adalah 18.249 atau setara dengan 20,65 persen.

Ketua KPU Tobasa Lampita Siregar didampingi Polmer Simanjuntak dan Herlan Hutahaean mengatakan sesuai dengan persyaratan minimal pendaaftaran balon adalah gabungan parpol harus memiliki minimal 15 persen suara sah, maka pihaknya menerima pendaftaran berkas MONAS yang diserahkan oleh Ketua tim pemenangan MONAS, Wesly Sitorus. Turut hadir saat mendaftar di ruangan KPU, Ketua DPC PDIP Djojor Tambunan dan Sekretarisnya Ir Viktor Silalahi.

SYUKURAN

Sementara itu, usai mendaftar massa kembali dengan tertib ke Lapangan Serba Guna HKBP dan mengikuti ibadah / kebaktian syukuran sekaligus meminta penyertaan dan belas kasihan Tuhan untuk ketulusan dan kesuksesan calon bupati dan wakil bupati MONAS yang dipimpin oleh Pendeta MSP Sitorus, Direktur Sekolah Tinggi Guru Huria – HKBP Seminarium Sipoholon.

Kebaktian ini mengusung thema “Memupuk dan Memelihara Kesatuan adalah Suatu Bentuk Syukuran Kepada Tuhan” (dari nats Efesus 4;3; I Tess 5;18)”.

Usai makan bersama, acara dirangkai dengan syukuran ulang tahun pernikahan suci Monang Sitorus – Intan DD boru Marpaung yang ke 32 tahun dan acara diakhiri dengan menyanyikan lagu ‘O Tano Batak’. (Dapdap)


Oleh: sinartapanuli | Maret 1, 2010

Nagatimbul, Tertinggal Di Tengah Kota

Nagatimbul, Tertinggal Di Tengah Kota

PAHAE – SINTA

Dusun Nagatimbul Desa Nahornop Marsada- Pahae Jae Kabupaten Tapanuli Utara  yang sudah berusia kurang lebih 100 tahun dan  berjarak sekitar 150 meter  dari kelurahan Pasar Sarulla, ibukota Kecamatan Pahae Jae masih gelap gulita, karena belum tersentuh jaringan listrik.

Dusun Nagatimbul yang dihuni sekitar 9 Kepala Keluarga, setiap malam harus menggunakan lampu teplok dan  lampu botol yang dipasang sumbu kain. ( dua alat penerangan ini menggunakan minyak tanah).

Op Clinton Gultom (65) Kepada SINTA, Senin ( 15/2)  menuturkan bahwa 4 (empat) tahun yang lalu, mereka sudah mencoba mengusulkan  kepada pemerintah ke pihak PT. PLN agar jaringan listrik masuk ke Dusun Nagatimbul, namun sampai saat ini belum realisasi.

Potret yang bisa ditangkap adalah, Timbul Gultom siswa kelas 1 SMP sedang belajar dengan menggunakan lampu teplok. Timbul adalah salah satu dari sekian banyak anak-anak sekolah di dusun ini yang mengalami hal yang sama.

“Kami ingin sekali seperti teman teman yang lain, yang tidak jauh dari kampung ini. Mereka belajar diterangi lampu listrik. Sama seperti mereka, kami juga punya cita cita dan ingin sekali rasanya kami belajar dengan menggunakan lampu listrik dan menonton televisi,” ujarnya kepada SINTA.

Sementara itu, M. Gultom (35) salah seorang warga, berharap agar dusun Nagatimbul dapat menikmati hasil kemerdekaan yang sesungguhnya.

“Ada desa atau dusun yang berjarak puluhan kilometer dari kecamatan bahkan belum bisa dilalui kendaraan roda empat, tetapi sudah bisa masuk listrik, dusun kami yang masih terletak ditengah kota,  justru sangat sulit untuk mendapatkan penerangan.

Selain kami orang tua, ingin rasanya  anak anak juga bisa menonton televisi untuk memperoleh informasi yang lebih luas dan tidak tertinggal dengan kemajuan informasi dan teknologi, sebab mereka juga bahagian dari generasi penerus bangsa,” ujarnya. (Suwardy Pasaribu)

Oleh: sinartapanuli | Maret 1, 2010

Pisang Bertandan 5 Tumbuh di Sibuluan

Pisang Bertandan 5 Tumbuh di Sibuluan

TAPTENG – SINTA

Warga Jalan Sipan Sihaporas, Kelurahan Sibuluan, Kecamatan Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), dihebohkan dengan keberadaan pohon pisang Sibantan yang bertandan lima milik M Panggabean (46).

“Awalnya kami tidak menyadari pohon pisang di pekarangan rumah kami akan berbuah seperti ini. Lama-kelamaan mulai ada keanehan, karena jantung pisang ini mulai bertumbuhan di beberapa sudut pohon. Biasanya, satu pohon pisang hanya ada satu tandan,” ungkap M Panggabean kepada sejumlah wartawan di kediamannya, minggu lalu.

Ia mengetahui keanehan pohon pisang tersebut sekitar dua minggu lalu, saat dirinya membersihkan pekarangan. Seiring dengan waktu, pisang itu menghasilkan lima tandan, dan buahnya kecil-kecil.

“Dari sekian banyak pohon pisang yang saya tanam di pekarangan rumah, hanya pohon pisang satu ini yang aneh namun nyata. Saya juga tidak ada memiliki firasat apa-apa atau mimpi yang aneh-aneh. Hanya saja harapan saya, kiranya dengan adanya keanehan ini, membawa rezeki buat keluarga kami,” tandas Panggabean.

Warga setempat, K Hutabarat (43) saat menyaksikan pohon pisang tersebut mengatakan, adanya pohon pisang bertandan lima baru kali pertama terjadi di daerah mereka. Ia pun menganggapnya sebagai tanda-tanda kebesaran Tuhan.

“Ini adalah kebesaran Tuhan dan sekaligus sebagai tanda-tanda bagi kita agar selalu mematuhi ajaran-Nya,” tukasnya sembari berharap lima tandan buah pisang itu memiliki mukjizat sebagai obat bagi warga yang membutuhkan.

Oleh: sinartapanuli | Maret 1, 2010

Calon Bupati Humbahas Minim

Peta Politik Pilkada Humbahas Bergeser

Calon Bupati Sangat Minim

*Jalur Perseorangan Tak Laku

DOLOKSANGGUL – SINTA

Peta politik menjelang pemilihan kepala daerah (pilkada) di Kabupaten Humbang Hasundutan dipastikan bergeser secara cepat. Faktor dominan  yang mempengaruhi adalah calon bupati yang dulunya ramai, kini menjadi sepi. Yang paling memprihatinkan, calon kandidat dari  jalur perseorangan sebagai kenderaan politik non partai  dipastikan tidak ada.

Kondisi lain, salah satu ‘petarung’ yang dulunya diprediksi bakal lawan kuat bupati incumbent kabarnya tidak mendapat restu dari atasan. Bahkan, Baginda Lumban Gaol (Calon kandidat bupati)  yang sudah mengikat pasangan dengan Saul Situmorang disebut sebut lebih memilih pekerjaan tetap menjadi seorang jaksa, dari pada ikut pada pilkada mendatang.

Tetapi ada juga isu yang mengatakan bahwa sesuai  hasil survey dari lembaga indenpenden menyebutkan bahwa  pasangan ini, secara statistik masih dibawah pasangan incumbent.

Tetapi belum diketahui secara detail penyebab mundurnya Baginda Lumbangaol dari ranah politik Kabupaten Humbang Hasundutan. Sebab hingga berita ini diturunkan, Baginda Lumban Gaol dan pihak yang dekat dengan dirinya belum  berhasil di konfirmasi.

Berbagai kalangan mengatakan, dengan mundurnya pasangan Baginda/Saul yang awalnya sangat diperhitungkan, akan semakin mempermulus jalan Maddin Sihombing ( bupati incumbent) merebut kembali ‘singgasana’ kursi bupati Humbang Hasundutan periode 2010- 2015.

Pemerhati pilkada Humbahas, JM Marbun, kepada SINTA, Sabtu (13/2), mengatakan, dengan mundurnya pasangan Baginda /Saul merupakan peluang besar bagi kandidat lain terlebih untuk pasangan incumbent. “Dengan mundurnya pasangan ini, maka pasangan Maddin/Marganti dan pasangan Bazoka/Darwin merupakan pasangan yang memiliki kans dibanding kandidat lainnya,” katanya.

Sementara itu dari pihak Bazoka Center terkesan dingin menanggapi masalah mundurnya Baginda. “Kami tetap fokus terhadap gerakan dan  strategi pemenangan. Yang jelas segala sesuatunya telah kita persiapkan untuk bisa menang pada pilkada nanti,” ujar Saut Matua, alias Gila Samosir Rabu (10/2).

Menurut Samosir, meskipun awalnya pasangan ini kurang diperhitungkan banyak kalangan, namun pihaknya yakin pada hari ‘H’ pilkada, dugaan tersebut akan terjawab. “Kita lihat saja nanti, kejutan akan muncul diluar dugaan,” katanya.            Sementara itu, Punguan Toga Simamora (PTS), akan mengusung SP. Simamora, Direktur CV 44. Itu terungkap pada pertemuan PTS di Balai Pertemuan Situmorang belum lama ini. PTS sudah mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan selama proses pilkada baik administrasi, ini dilakukan mengingat pilkada sebelumnya, PTS terbentur pada munculnya beberapa kandidat dari keturunan PTS.

Sementara itu pasangan Maddin Sihombing/Marganti Manullang, yang sudah mendapat dukungan dari Partai Golkar, sudah melakukan gerakan politik dengan  mendirikan center di wilayah  kecamatan dan pedesaan.

Tak Laku

Sementara bakal calon bupati/wakil bupati dari jalur perseorangan (independen) dipastikan tidak ada. Sebab hingga hari terakhir ditutupnya pendaftaran dari jalur tersebut, tak satu pun figur yang mengambil formulir.

Ketua KPU Kabupaten Humbang Hasundutan Kosmas Manalu saat dikonfirmasi SINTA menjelaskan bahwa hingga hari terakhir pendaftaran, Selasa (9/2), tidak ada yang mengambil formulir.

“Ya begitulah mungkin, mereka tidak tertarik memakai jalur ini, padahal kita membuka pendaftaran selama satu minggu. Maka dengan ditutupnya pendaftaran, otomatis kandidat dari jalur perseorangan untuk pilkada Humbang Hasundutan  periode 2010 – 2015  tidak ada atau kosong ,” jelasnya.

Sementara itu pengamat politik James E Simorangkir berpendapat dalam pengertian secara umum menggambarkan bahwa kondisi beberapa daerah di Kawasan Tapanuli dalam pelaksanaan pilkada nanti sangat memprihatinkan. Menurutnya, ini terbukti dengan minimnya calon bupati di Humbang Hasundutan, termasuk kosongnya kandidat dari jalur perseorangan.

“Ini juga harus diukur dari kemampuan para calon kandidat dalam proses demokrasi ini, terutama dalam memanfaatkan jalur perseorangan. Dengan semakin minimnya calon bupati untuk merebut posisi bupati di kawasan ini, merupakan ‘tamparan’ bagi masyarakat dan parpol dan menjadi sebuah pertanyaan besar,” ujarnya.

Menurut James, kondisi ini banyak dipengaruhi oleh pertimbangan bagi banyak orang yang memprediksi  bahwa masyarakat tidak lagi menggunakan akal sehat dan logika dalam memilih pemimpin.

Artinya para kandidat diselimuti kekhawatiran bahwa kemampuan kapabilitas mereka tidak lagi menjadi pertimbangan utama bagi masyarakat, tetapi malah rakyat memanfaatkan pilkada hanya sekedar ajang penghamburan duit yang diberikan para kandidat.

Jika ini yang terjadi di Humbang Hasundutan dan beberapa daerah lain di Kawasan Tapanuli, jelas merupakan kemunduran dalam tatanan demokrasi dan sangat disesalkan. Artinya, siapa yang memberikan uang, itu yang menang. Maka jika rakyat sudah terseret dengan itu, apa masih ada artinya memiliki  pemerintahan?, katanya.

Status Incumbent

James juga berpendapat bahwa peraturan perundang-undangan yang tidak mengatur dengan jelas kedudukan incumbent pada saat dirinya ikut dalam Pilkada, juga banyak mempengaruhi banyak figur untuk memilih mundur dari pilkada.

“Kegamangan regulasi ini jelas akan membuat para kandidat lain harus memiliki kekuatan ekstra untuk menandingi incumbent. Jelas ini merupakan  kekhawatiran bagi kandidat lain, sebab pada saat bersamaan, incumbent itu  memiliki daya kuat terutama dukungan finansial dan mobilitas yang masih optimal di dimanfaatkan,” tandasnya.

Disisi lain dia menyebut, minimnya calon bupati di Kabupaten Humbang Hasundutan bisa jadi karena partai partai pun juga tidak mempunyai visi politik yang jelas, dalam rangka mempersiapkan kader, terutama dalam menentukan calon  pemimpin di daerah otonom saat ini. Persoalanya tetap sama, ukuranya tetap uang, siapa yang menyetor paling banyak, itu yang diusung atau didukung.

Revolusi

Secara tegas dia pun menyebutkan sudah saatnya ada revolusi, dalam pengertian ada semacam pertobatan dari aspek spritual, untuk meninggalkan kebiasaan buruk itu. Sekarang, bagaimana agama ( Kawasan Tapanuli mayoritas Agama Kristen) berperan meletakkan etika moral dan spritual bagi kemajuan daerah itu, termasuk dalam melakukan penggembalaan kepada jemaat dalam menentukan pemimpinya.

Disini, peranan tokoh agama dalam membangun sebuah landasan politik masyarakat sangat diperlukan. “Agama sangat berperan memilih seorang pemimpin yang benar,” tegasnya.  (JPS/Jannes Purba).

Oleh: sinartapanuli | Januari 23, 2010

PTUN Kabulkan Gugatan PNS Taput

Seputar PNS Gugat Bupati Taput

PTUN Kabulkan 19 Gugatan

* Kebijakan Bupati Dinilai Sembrono

TARUTUNG – SINTA

Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Medan, Rabu (6/1), akhirnya mengabulkan 19 dari 20 gugatan yang ditujukan oleh Pegawai Negeri Sipil (PNS) kepada Bupati Tapanuli Utara Torang Lumbantobing selaku pihak yang paling bertanggungjawab atas keluarnya Surat Keputusan (SK) mutasi terhadap PNS.

Amar putusan PTUN Medan mengamanatkan dan memerintahkan agar pihak tergugat (Bupati Taput – red) melaksanakan putusan pengadilan terhadap 19 penggugat. Isinya, mengabulkan seluruh gugatan terhadap penggugat, mengembalikan penggugat kepada jabatan semula atau setara dengan jabatan semula, merehabilitasi harkat dan martabat penggugat serta membebankan biaya perkara kepada tergugat.

Seperti diketahui, pasca pilkada Taput 2008 atau semenjak terpilihnya Torang Lumbantobing dan Bangkit Silaban sebagai bupati dan wakil bupati Taput, lebih kurang 250 orang PNS telah dimutasi maupun ‘dinonjobkan’. Akibat kebijakan yang dinilai spektakuler  tersebut,  maka pihak PNS yang merasa dirugikan dan haknya  dizolimi melakukan gugatan ke PTUN.

Sekretaris tim PNS yang melakukan gugatan, Drs Sofian Simanjuntak menjelaskan, ke-19 orang penggugat yang dimenangkan PTUN dibagi dalam lima register perkara. Register 69 atas nama Drs Joksen Sijabat dan Drs Sofian Simanjuntak. Register 70 Ir Mutiara Hutasoit,  Drs Bernad Aruan dan Marihot Marpaung BA. Register 71 adalah Jhonny Sigalingging SKM. Register 73 Erty Panent SE Msi, Jonri Sinaga, Riris Aritonang. Register 74 masing masing Delima Simarangkir, Mastur Sinaga, Zulkifli Sitompul, Rince Situmorang, Resmi Siringoringo, Tiamin Samosir, Paruntungan Sianturi, Rosnita Silalahi, Marlena Sitompul dan Ropina Siahaan.

Sementara penggugat dengan register perkara 75 dikalahkan oleh PTUN. Keadaan ini terjadi setelah hakim anggota Bambang Wicaksono SH dalam persidangan membacakan setting opinion. Dijelasakan, terjadi perbedaan pendapat diantara tiga majelis hakim sehingga diputuskan melalui pemungutan suara yang pada akhirnya mengalahkan penggugat dengan perbandingan 1: 2.

Sofian menjelaskan lagi, melalui kemenangan ini pihaknya ingin membuka mata hati PNS dimana seorang PNS punya hak dan tidak bisa dilakukan sewenang wenang oleh pembuat keputusan. Tentunya dibarengi dengan kewajiban kinerja yang baik. Untuk itu Ia menghimbau rekan PNS, melaksanakan kewajiban PNS sebaik baiknya.

Ia berharap melalui pembuktian tersebut, kepercayaan diri PNS pulih kembali dan bisa bekerja secara profesional tanpa tekanan. “Mudah-mudahan kejadian ini yang pertama dan yang terakhir, karena apapun ceritanya apabila ada sengketa Bupati dengan PNS yang dirugikan adalah masyarakat,” ujarnya.

Diungkapkannya, selaku aparatur negara dan abdi masyarakat pihaknya siap bekerja seperti biasa dalam membangun Taput menuju masyarakat sejahtera.

Putusan PTUN tersebut juga mengamanatkan kepada tergugat dan penggugat yang dikalahkan PTUN diberikan waktu 14 hari untuk mengajukan banding.

Sofian menambahan kemungkinan eksekusi terhadap hasil putusan PTUN dibacakan langsung oleh panitera pengadilan selambat lambatnya 14 hari setelah putusan PTUN.

“Ini adalah pembelajaran bagi para pembuat keputusan dan seluruh aparatur negara bahwa semua ada aturan mainnya. Tidak ada yang kebal hukum di negara kita ini,” katanya.

Sembrono

Kebijakan seorang pemimpin merupakan kunci kesuksesan program pembangunan kedepan. Sebab kebijakan yang salah akan berakibat buruk kepada  setiap aspek pembangunan yang akan dilaksanakan. Untuk itu seorang penguasa sebelum memutuskan suatu kebijakan harus terlebih dahulu mempertimbangkan aspek aspek yang timbul. Sehingga tidak merugikan pada satu pihak saja.

Berbeda dengan apa yang terjadi di kabupaten Tapanuli Utara beberapa bulan terakhir dengan  banyaknya PNS yang dimutasikan, dinonjobkan/dizolimi  haknya oleh ‘penguasa tunggal daerah’ Bupati Taput, dengan payumg hukum yang tidak jelas. Sehingga tidak sedikit dari mereka yang harus menangis akibat dari kebijakan yang keliru itu.

Ungkapan tersebut disampaikan oleh anggota DPRD Taput, Jasa Sitompul kepada SINTA di Tarutung.  Kata Jasa, kebijakan Bupati Taput dengan menyiksa ratusan PNS untuk di mutasi atau non job dan bahkan haknya dizolimi merupakan kebijakan yang sembrono dan kurang beretika.

Jasa mengatakan bahwa dikabulkannya gugatan PNS Taput ke PTUN Medan merupakan sikap yang terpuji dan patut disyukuri.

“Itu adalah berkat dari Tuhan. Tetapi 19 PNS yang gugatannya dikabulkan PTUN Medan belum keputusan finas dan masih merupakan putusan PTUN tingkat pertama. Untuk itu mereka jangan cepat puas dan berhenti sampai disitu. Sebab, tergugat atau pihak yang dikalahkan masih mempunyai hak untuk melakukan upaya banding ke Mahkamah Agung,” jelasnya.

Meski begitu, Ia berpendapat apa yang PNS Taput gugat selama ini adalah fakta yang berbicara dan harus dihormati. “Apabila nantinya keputusan itu telah berkekuatan hukum tetap, maka kita (DPRD – red) akan meminta Bupati Taput untuk melaksanakan isi putusan itu agar PNS yang selama ini non job ditempatkan kepada posisi semula,” tegas Jasa.

Jasa menilai, bila tergugat (Bupati Taput) tetap bersikeras melakukan upaya banding, maka si tergugat dianggap kurang berlapang dada. Jika hal demikian terjadi, maka PNS yang lain yang ikut dinonjobkan akan melakukan gugatan baru, diantaranya oleh dokter spesialis kandungan Andre Hutabarat.

“Pemkab Taput dalam hal ini tidak lagi berada pada system pemerintahan yang baik atau yang dinamakan “good governance”,” tambahnya, seraya mengingatkan agar kejadian serupa tidak terulang kembali.

Sementara itu, mantan Wakil Ketua DPRD Taput Herbet Panggabean, menilai dikabulkanya gugatan PNS Taput oleh PTUN Medan, merupakan “aib” bagi Pemkab Tapanuli Utara. Artinya Bupati Tapanuli Utara Torang Lumbantobing, harus sudah mengevaluasi diri.

Menyikapi putusan PTUN Medan tersebut, Sekdakab Taput Sanggam Hutagalung MM, saat dikonfirmasi SINTA via telepon selulernya justru mengarahkan untuk mengkoordinasikanya dengan Kabag Hukum Pemkab Taput. Sementara Kabag Hukum Pemkab Taput Henry Purba SH, setelah beberapa kali dihubungi tidak berhasil. (TIM).

Oleh: sinartapanuli | Januari 23, 2010

PNS Gugat Bupati Taput

Pasca PilkadaTaput, 250 Orang Lebih PNS Dimutasi

PNS Gugat Bupati Taput

TARUTUNG – SINTA

Pasca pilkada Kabupaten Tapanuli Utara 2008, atau semenjak terpilihnya Torang Lumbantobing dan Bangkit Silaban menjadi bupati dan wakil bupati, lebih kurang  250 orang Pegawai Negeri Sipil (PNS) baik sebagai pejabat struktural dan fungsional, staf, kepala sekolah dan guru dimutasi. Sebahagian diantaranya juga dinonjobkan tanpa alasan yang jelas.

Terbitnya Surat Keputusan (SK) pemutasian terkesan dilakukan secara mendadak dan tidak manusiawi bahkan telah menimbulkan keresahan di kalangan PNS. Tak menerima keputusan tersebut, akhirnya Bupati Tapanuli Utara digugat ke Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara (PTUN) Medan.

Dua mantan camat, masing-masing Drs Joksen Sijabat dan Drs Sofian Simanjuntak, saat diwawancarai SINTA, Senin (21/12) di Rumah Kapal dekat objek wisata Dolok Siatas Barita mengatakan, bahwa melihat banyaknya PNS yang mengalami mutasi dan nonjob, merupakan sebuah kriminalisasi dan tindakan semena-mena yang dilakukan para decision maker (pengambil keputusan, red).

Joksen menjelaskan, sebelum pemutasian banyak diantara korban mutasi yang sama sekali tidak pernah ditegur atau dijatuhi hukuman sesuai peraturan pemerintah.

“Bahkan usulan pemutasian dari pimpinan unit kerja sendiri pun tidak pernah ada. Biasanya, sebelum dilakukan pemutasian terlebih dahulu mengacu kepada Daftar Penilaian Prestasi Pegawai (DP3), sebagai acuan yang mengatur kinerja pegawai, atas dasar itulah kami melakukan gugatan terhadap Bupati Torang Lumbantobing” ujar Joksen Sijabat, selaku ketua Tim Penggugat.

Sementara itu, menurut Sofian Simanjuntak pemutasian itu adalah kriminalisasi atau rekayasa yang tidak mengacu ketentuan dan peraturan.

Ironisnya, menurut Simanjuntak, terbitnya SK mutasi tanpa didasari usulan dari pimpinan SKPD, dimana seharusnya pimpinan SKPD sebagai penilai kinerja staff atau bawahan, harus dilibatkan. “Ini sesuai dengan Keputusan Badan Administrasi  Kepegawaian Negara (BAKN) No 13 tahun 2002, mengacu pada petunjuk pelaksanaan PP Nomor  100 Tahun 2000 dan PP Nomor 13 tahun 2002,” jelasnya.

Ia memberi contoh, apa yang dialami  Drs Bernad Aruan, pegawai di Dinas Pariwisata Taput, dimana sebelum SK mutasi diterima, yang bersangkutan tidak pernah ditegur pimpinan. Baik akibat kelalaian atau pelanggaran dalam menjalankan tugas. “Itu sendiri diakui oleh oleh Kadis Pariwisata Ir TP Nainggolan,” tambahnya.

Hal serupa dialami Ir Mutiara Hutasoit. Plt Kadis Perikanan dan Peternakan Drs HP Marpaung ketika itu, juga tidak pernah menegurnya.

“Mengacu pada peraturan diatas, alasan yang dapat dijadikan acuan untuk melakukan mutasi tidak kuat. Intinya dasar pemutasian tidak mempertimbangkan berbagai hal, apalagi DP3 yang mengatur kinerja pegawai,” ujar Sofian Simanjuntak, yang kapasitasnya juga sebagai Sekretaris Korpri Taput itu.

Lebih mengherankan lagi, lanjut Sofian, saat persidangan di PTUN Medan para saksi dari pihak tergugat seperti Kepala Inspektorat Djulu Hutapea dan Kepala Dinas Pendidikan Mariani Simorangkir mengaku tidak pernah mempertimbangkan DP3 yang bersangkutan. Bahkan para saksi tersebut tidak mengetahui kemana ke – 20 orang PNS  tersebut  dimutasi, apa jabatan dan pangkat  sebelum dan sesudah dimutasi. ”Yang paling memalukan, para saksi yang dipanggil tidak mampu membuktikan alasan atau dasar untuk melakukan mutasi,” terangnya.

Sofian mengaku, kalau banyak PNS yang mutasi. Ia menduga tidak melakukan gugatan kepada Bupati Taput, karena ketakutan dan alasan lain.

Persidangan atas gugatan ini, tutur Sofian, dibagi dalam 6 register perkara.  Register 69, atas nama Drs Joksen Sijabat dan Drs Sofian Simanjuntak. Kedua pejabat ini selain pernah bertugas sebagai camat, juga telah mengabdi di beberapa lintas kerja.

Register 70, atas nama Ir Mutiara Hutasoit, Drs Bernad Aruan dan Marihot Marpaung BA. Register 71: Jhonny Sigalingging SKM. Register 73 : Erty Panent SE.MSi, Jonri Sinaga, Riris Aritonang.

Sementara itu di register 74 yang sebelumnya menjabat kepala sekolah masing masing Delima Simorangkir, Mastur Sinaga, Zulkifli Sitompul, Rince Situmorang, Resmi Siringoringo, Tiamin Samosir, Paruntungan Sianturi, Rosnita Silalahi, Marlena Sitompul dan Ropina Siahaan. Terakhir, register 75 atas nama Santa Uli Silitonga.

Gugatan mereka terhadap Bupati Taput Torang Lumbantobing adalah menolak keputusan SK pemutasian, pengembalian harkat dan martabat PNS yang bersangkutan. Dalam  gugatan tersebut , mereka menyatakan bupati Taput dalam melakukan pemutasian tidak memenuhi ketentuan prosedur dan meminta agar PTUN Medan mengabulkan gugatan mereka untuk pembatalan SK pemutasian, dan dikembalikan ke tempat penugasan semula. (tim)

Oleh: sinartapanuli | Januari 23, 2010

BERBAGI KASIH BERSAMA SINTA

SINTERKLAS

Sinterklas SINTA

Siterklas

Dikerumuni

Berbagi Kasih Bersama SINTA

Surat Kabar Sinar Tapanuli (SINTA) akhir Desember lalu mengadakan Sinterklas (Santa Klaus) dan pemberian tali kasih di beberapa kota dan wilayah. Surat kabar yang masih seumur jagung ini, menyadari betul bahwa berbagi kasih di saat natal dan tahun baru sesuatu yang sangat indah.

Pawai sinterklas secara maraton di lima kota masing-masing Tarutung – Siborongborong – Balige – Dolok Sanggul – Sibolga, meninggalkan kesan indah saat sosok dibalik sinter class melambaikan tangan, dengan suar khasnya dan tak seorang pun siapa Papa Noel (sosok dibalik baju sinterklas). Warga tak menghiraukan itu, tetapi jiwa mereka tersa bergelanyut mengikuti iring-iringan sembari melambaikan tangan dan mengucapkan Selamat Hari Natal.

Untuk pemberian tali kasih, kesanya yang mendadak, tanpa pemberitahuan sebelumnya membuat perasaan terkejut, haru. Semua itu dilebur dalam jiwa suka cita setiap rumah tangga miskin yang menerima uluran tangan tali kasih SINTA beberapa waktu lalu. Ungkapan doa dan ucapan terimaksih pun disampaikan kepada redaksi, wartawan dan staf yang memberikan tali kasih berupa beras, gula, mie instan, minyak goreng, susu dan sirup. Intinya mereka memberikan motifasi dan mendoakan agar surat kabar ini semakin maju dan jaya.

*Di Kecamatan Lintong Nihuta- Humbang Hasundutan

Keluarga, Hotmaida boru Nababan, janda dengan 4 anak yang ditinggal suami almarhum Torus Lumbantoruan, warga Huta Gurgur, Desa Nagasaribu V, Kecamatan Lintong Nihuta, Humbahas merasa kaget dengan kunjungan SINTA, akhir Desember lalu.

Dengan perasaan haru dia mengucapkan “Setiap Natal keluarga kami hanya mengandalkan hidup apa adanya, Jadi kedatangan SINTA dengan program ini sangat membantu kami, semoga SINTA diberkati Tuhan,” ujarnya sembari menyeka air mata saat menerima pemberian tali kasih yang diserahkan wartawan Surat Kabar Sinar Tapanuli Bukka Lumbantoruan.

Pada waktu yang hampir bersamaan, Keluarga Sarlin Silaban, warga Huta Silaban Sibaganding, Desa Nagasaribu II, Kecamatan Lintong Nihuta menerima hal yang sama. Sarlin Silaban yang sudah lima tahun terakhir sakit-sakitan dan hanya mengandalkan istrinya br Nababan untuk menopang keluarga dengan 5 anak.

Koordinator Liputan Surat Kabar Sinar Tapanuli Tani Siringoringo saat menemui keluarga ini di rumah berlantai tanah dan berdinding papan berukuran 4 x 6 meter, memberikan penjelasan dan ucapan selamat Natal.

“Kami sangat berterima kasih kepada SINTA ternyata masih ada yang memberikan kepedulian untuk membantu keluarga ini, terlebih di suasana Natal dan Tahun baru, “ ungkapnya terisak. (*)

*Di Kecamatan Siborongborong – Tapanuli Utara

Keluarga Hotman Sitompul, Warga Huta Pangasean, Desa Siaro, Kecamatan Siborongborong. Karena kondisi istrinya, Besaria br Nababan sakit-sakitan, Hotman harus rela memboyong keluarganya dari Pahae dan menetap di Siaro meskipun hanya tinggal di sopo perladangan milik warga setempat dan mengandalkan hidup dari pekerja harian di perladangan. “Terima kasih kepada SINTA yang berbagi kasih kepada kami, Semoga Tuhan melindungi SINTA dan seluruh redaksi dan staff. Ternyata di natal ini masih ada yang peduli kepada Kami,” ungkapnya terharu.

*Di Kecamatan Tarutung – Tapanuli Utara

Surat Kabar Sinar Tapanuli juga memberikan bingkisan tali kasih bagi orang yang kurang mampu di Kecamatan Tarutung . Di berikan kepada keluarga Siregar (+) /Dewi Br Tampubolon di daerah pinggiran Aek Ristop Kecamatan Tarutung .

Dengan menyusuri pinggiran Aek Ristop tim SINTA tiba di rumah yang sangat sederhana dan jaringan listrik belum masuk. Sore itu, tanggal 27 Desember ibu boru Tampubolon sedang mengasuh anaknya yang paling bungsu. Almarhum suaminya bermarga Siregar meninggal pada bulan Mei 2009, meninggalkan 4 orang anak yang masih dalam tanggungan keluarga. Untuk menyambung hidup, ibu boru Tampubolon bekerja sebagai tukang urut keliling dan bertani.

Dengan mata berkaca-kaca beliau menerima bingkisan Natal SINTA yang diberikan Kabag Iklan Sinar Tapanuli Hengki Hutagalung.SP. Ibu separuh baya ini pun berdoa semoga Surat Kabar Sinar Tapanuli semakin di kenal dan jaya di Tapanuli.

Masih di kecamatan yang sama, tepatnya di Desa Parbubu Sampuran Tarutung Tali Kasih Sinta di berikan kepada keluarga Tobing/br Hutapea. Tobing bekerja bertani dan buruh tukang. Tobing mempunyai anak 4 orang dan masih mengontrak rumah. Walaupun bekerja keras namun hanya mampu mencukupi kebutuhan makan keluarga saja.

SINTA memilih keluarga Tobing, sebelumnya telah direkomendasi oleh Putra Parbubu Renhard Tobing.S.Sos dengan alasan, Tobing merupakan pekerja keras dan siap bekerja apa saja demi memenuhi kebutuhan keluarganya. Bingkisan langsung diserahkan oleh Pemimpin Umum Surat Kabar Sinar Tapanuli Mustafa Purba. (*)

*Di Kecamatan Siatas Barita- Tapanuli Utara

Garis hidup seseorang hanya Tuhan yang mengetahui. Begitulah yang dialami oleh Saut Simorangkir, yang tinggal di Dusun Hutaginjang Desa Simorangkir Habinsaran Kecamatan Siatas Barita. Dia menderita penyakit mata. Meski dengan penglihatan yang kurang jelas lagi, Saut masih menggeluti pekerjaanya sebagai petani padi. Seringkali, teman sekampungnya menyarankan agar dia jangan terlalu lama pulang dari sawah, tetapi Saut mengatakan, bila tak dikerjakan, bagaimana nasib anak dan istrinya.

Didampingi Sekretaris Desa Amudi Simorangkir, tim SINTA menemui Saut dan istrinya. Rasa terkejut dan haru menyelimuti pertemuan sesaat itu.

Redaktur Pelaksana Surat Kabar Sinar Tapanuli Jan Pieter Simorangkir sebelum memberikan tali kasih, memberi motifasi kepada saut dan keluarganya. “Mauliate ma amang, dang panagamon hu ro hamu mangalehon pangurupion. Anggiat lam tu maju na SINTA i. (Terimaksih Pak. Tak kuduga, kalian datang memberikan bantuan), kiranya SINTA semakin maju,” ujarnya sambil menyodorkan kedua tangan memberi salam. (*)

*Di Kecamatan Pahae Jae- Tapanuli Utara

Setelah sebelumnya wartawan yang bertugas di daerah tersebut ditugasi mencari salah satu keluarga yang tidak mampu, SINTA meluncur ke kawasan Pahae, tepatnya di Dusun Lumban Sinaga Desa Suka Maju Kecamatan Pahae Jae. Semula, ibu Linne boru Rajagukguk sempat takut, namun setelah mendapat penjelasan dari kepala desa Jamson Sinaga, ibu tua berumur sekitar 62 tahun ini, mengangguk-angguk.

Salam hangat dari Redaktur Pelaksana Surat Kabar Sinar Tapanuli Jan Pieter Simorangkir pun mengawali untaian kasih tersebut. ”Ibu harus tabah, dan kiranya ibu sehat selalu terutama dalam merayakan Natal dan Tahun Baru ini,” ujar Jan Pieter sambil menyerahkan bingkisan Natal.

Pemberian tali kasih ini selain didampingi wartawan yang bertugas di Kawasan Pahae, Saut P Gultom dan Swardi Pasaribu, juga ikut beberapa warga dan pembaca SINTA antara lain Kondar Gultom, Pak Rusma Bintang, Gandeng Gultom, Pak Rum Siahaan dan Jamin Sinaga. (*)

* Di Balige – Tobasa

Sementara di Balige, Toba Samosir, Pemimpin Redaksi SINTA, Patar Nadapdap pada akhir Desember 2009 lalu, menyerahkan bingkisan kepada keluarga Silalahi di Nagatimbul Kelurahan Pardede Onan.

Saat menyerahkan bingkisan di Pardede Onan, Pemred yang didampingi isteri Dewi boru Siahaan menyempatkan diri menyampaikan salam natal dan melihat langsung kondisi Pak Silalahi gelar Ama Rimma yang terbaring di kamar tidur. “Sudah tiga bulan Bapak tergeletak di tempat tidur,” ujar ibu ini dengan sedih.

Kondisinya cukup menyedihkan. Selain hanya tergeletak, ternyata si ayah juga tidak bisa melihat lagi.

Setelah menerima bingkisan, Ny Silalahi mengucap syukur kepada Tuhan sembari menyebutkan agar perusahaan pers ini maju dan berkembang. “Anggiat ma lam tu majuna perusahaan muna i (Semoga perusahaan Anda semakin maju, red),” ujar Ny Silalahi.

Masih di kecamatan yang sama, Patar Nadapdap juga menyerahkan bingkisan natal kepada keluarga Tinambunan di Desa Sihail-hail Balige. Ny Tinambunan yang menerima bingkisan natal tampak sumringah dan berterimakasih karena tak menyangka adanya pemberian tali kasih tersebut. (*)

Tulisan Sebelumnya »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.