
TARUTUNG
Sebahagian besar sarana irigasi di Kabupaten Tapanuli Utara tidak berfungsi dengan baik. Akibatnya ratusan hektar sawah mengalami kekeringan dan sebahagian terancam kekeringan. Sebaliknya, saat musim hujan terjadi luapan air akibat irigasi tak tersistem dengan baik, rembesannya merusak tanaman dan kolam ikan. Ancaman gagal panen pun muncul, produksi berkurang serta sulitnya memperoleh air saat musim tanam.
Data terakhir di Balitbang SINTA menyebutkan, dari jumlah luas lahan sawah dan kolam ikan yang ada di daerah ini, sekitar 25 persen sedang mengalami kekeringan, 10 persen lagi terancam kekeringan. Angka ancaman yang cukup fantastik, jika dikaitkan dengan sebutan daerah ini daerah pertanian serta visi dan misi pembangunan daerah.
Sementara dari hasil pematauan dilapangan, sedikitnya ada 12 titik irigasi multi fungsi lumpuh total. Walaupun sarana irigasi tersebut masuk kategori baru dibangun dan berbiaya relatif besar. Di beberapa titik ditemukan kejanggalan perencanaan (tidak terkondisinya sumber air yang secara rutin mensuplai ke badan irigasi), pekerjaan yang kurang baik dan pemeliharaan sarana bangunan yang tidak optimal dilakukan. Pemangku amanah terkait irigasi pun terkesan tutup mata, bangunan hidup yang semula diharapkan masyarakat, berubah menjadi tembok tembok mati.
Contoh terdekat, ada di Desa Parbaju Julu hingga wilayah pertanian milik warga Desa Parbaju Tonga yang masih berdekatan dengan ibukota kabupaten, Tarutung. Puluhan hektar sawah dan kolam ikan yang dulu produktif, kini terancam puso. Petani tidak lagi hanya kesulitan memperoleh air, tetapi sebahagian sawah yang dulunya gembur dan berair berubah menjadi kering dan ditumbuhi ilalang. Bangunan irigasi induk Bondar Panaharan yang sumber airnya dari Sungai Sigeaon tidak berfungsi.
Kepala Desa Parbaju Julu Oktoberin Hutabarat mengatakan lebih dari 50 hektar sawah milik warga di desanya kini mengalami kekeringan. Dimulai dari musim tanam padi tahun lalu, kawasan ini sudah kering. Ratusan petani sawah padi dan kolam ikan sudah mengeluh.
“Lihat saja hamparan lahan itu, dulu masih ada air, sekarang sudah kering dan tandus bahkan sudah ditumbuhi ilalang.Masalah ini sebenarnya sudah kita sampaikan ke pemerintah, karena menyangkut nasib kurang lebih 80 persen penduduk, tapi entah bagaimana belum juga ditanggulangi,”ujar Oktoberin kepada tim liputan SINTA, Kamis (9/10).
Sementara itu M Boru Tamba (49), salah seorang petani di Parbaju Julu mengeluh, tahun ini sangat kesulitan memperoleh air untuk mengairi lahan pertanian nya . ”Lima tahun lalu, saat air masih lancar, saya masih menjual ikan sedikitnya 1 ton setiap tahun, dan itu membantu biaya sekolah anak saya. Tahun ini kolam itu tak ada lagi sebab air tidak ada. Bayangkan saja, anak saya sekarang yang sedang kuliah juga terancam membayar uang kuliah. Terus terang, dari hasil penjualan gabah kering giling dan ikan mas, akan kupergunakan memyar uang kuliahnya.Sekarang saya tidak tahu lagi harus berbuat apa, bingung ,”ungkapnya.
Pantas saja, irigasi Bondar Panaharan yang sumber airnya dari Sungai Sigeaon lumpuh total. Tidak berfungsinya irigasi ini otomatis melumpuhkan aliran air ke kantong kantong irigasi lain yang berdekatan dengan pemanfaat air di kawasan itu. Padahal proyek irigasi yang dikelola oleh Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Tapanuli Utara dua tahun lalu tersebut berbiaya ratusan juta rupiah.
Pantauan lainnya, irigasi yang sudah terbangun dari dulu dan entah sudah beberapa kali direhabilitasi dan dibangun dengan sumber dana yang dikelola pemerintah daerah dimulai dari kawasan Pardangguran – Panganan Lombu-Hutabaginga – Sumur – Saitnihuta, semuanya di berada wilayah Kecamatan Tarutung juga tidak berfungsi. Di Hutabaginda misalnya, irigasi tersebut sekarang sama sekali tidak berfungsi.
Tidak tuntasnya masalah irigasi juga meluas ke wilayah kecamatan Siatas Barita yang berbatasan dengan Kecamatan Tarutung tepatnya di Bondar Sibabiat, Susunggulon. Pada setiap musim penghujan, hampir separuh kolam ikan di kawasan ini jebol, akibat sarana irigasi tidak memadai untuk menampung kiriman air dari hulu.”Tidak ada sistem pengairan yang baik, yang dibangun dari tahun ke Tahun.Pada saat musim hujan, dalam hitungan menit, air sudah meluap dan merusak kolam ikan milik warga”, ujar Pardomuan Hutabarat.
Sementara di Kecamatan Purba Tua dan beberapa desa di kawasan Luat Pahae yang meliputi 4 kecamatan yakni Pahae Jae, Pahae Julu, Purba Tua dan Simangumban juga sangat akrab dengan ancaman kekeringan. Kekeringan juga selalu ada setiap tahun, seperti di Desa Pardomuan Kecamatan Purba Tua.
Anggota DPRD Taput Jasa Sitompul mengatakan permasalahan ini sudah terjadi dari tahun ke tahun. Pemerintah harus segera memberi jawaban atas kekeringan dan ancaman yang mungkin timbul ke depan.
“Jujur saja, bila masalah pengairan saja tak dapat ditangani, bagaimana kita bicara pertanian dan peningkatan ekonomi masyarakat yang bertumpu ke sektor ini. Maka jawabannya, pemerintah harus melakukan survei, perencanaan, prioritas dan pendanaan yang benar dan tepat sasaran. Bila penting rencana strategis pembangunan harus dititikberatkan ke sarana irigasi , bila ingin daerah ini maju di sektor pertanian.
Pihak perencana dan pelaksana proyek juga jangan melakukan pekerjaan asal jadi. Maka semua pihak harus menunjukkan itikad baik. Dikhawatirkan bila sarana irigasi di Taput tetap tidak tuntas, penderitaan rakyat terutama petani akan semakin terpuruk,” katanya. (JPS)