Peta Politik Pilkada Humbahas Bergeser
Calon Bupati Sangat Minim
*Jalur Perseorangan Tak Laku
DOLOKSANGGUL – SINTA
Peta politik menjelang pemilihan kepala daerah (pilkada) di Kabupaten Humbang Hasundutan dipastikan bergeser secara cepat. Faktor dominan yang mempengaruhi adalah calon bupati yang dulunya ramai, kini menjadi sepi. Yang paling memprihatinkan, calon kandidat dari jalur perseorangan sebagai kenderaan politik non partai dipastikan tidak ada.
Kondisi lain, salah satu ‘petarung’ yang dulunya diprediksi bakal lawan kuat bupati incumbent kabarnya tidak mendapat restu dari atasan. Bahkan, Baginda Lumban Gaol (Calon kandidat bupati) yang sudah mengikat pasangan dengan Saul Situmorang disebut sebut lebih memilih pekerjaan tetap menjadi seorang jaksa, dari pada ikut pada pilkada mendatang.
Tetapi ada juga isu yang mengatakan bahwa sesuai hasil survey dari lembaga indenpenden menyebutkan bahwa pasangan ini, secara statistik masih dibawah pasangan incumbent.
Tetapi belum diketahui secara detail penyebab mundurnya Baginda Lumbangaol dari ranah politik Kabupaten Humbang Hasundutan. Sebab hingga berita ini diturunkan, Baginda Lumban Gaol dan pihak yang dekat dengan dirinya belum berhasil di konfirmasi.
Berbagai kalangan mengatakan, dengan mundurnya pasangan Baginda/Saul yang awalnya sangat diperhitungkan, akan semakin mempermulus jalan Maddin Sihombing ( bupati incumbent) merebut kembali ‘singgasana’ kursi bupati Humbang Hasundutan periode 2010- 2015.
Pemerhati pilkada Humbahas, JM Marbun, kepada SINTA, Sabtu (13/2), mengatakan, dengan mundurnya pasangan Baginda /Saul merupakan peluang besar bagi kandidat lain terlebih untuk pasangan incumbent. “Dengan mundurnya pasangan ini, maka pasangan Maddin/Marganti dan pasangan Bazoka/Darwin merupakan pasangan yang memiliki kans dibanding kandidat lainnya,” katanya.
Sementara itu dari pihak Bazoka Center terkesan dingin menanggapi masalah mundurnya Baginda. “Kami tetap fokus terhadap gerakan dan strategi pemenangan. Yang jelas segala sesuatunya telah kita persiapkan untuk bisa menang pada pilkada nanti,” ujar Saut Matua, alias Gila Samosir Rabu (10/2).
Menurut Samosir, meskipun awalnya pasangan ini kurang diperhitungkan banyak kalangan, namun pihaknya yakin pada hari ‘H’ pilkada, dugaan tersebut akan terjawab. “Kita lihat saja nanti, kejutan akan muncul diluar dugaan,” katanya. Sementara itu, Punguan Toga Simamora (PTS), akan mengusung SP. Simamora, Direktur CV 44. Itu terungkap pada pertemuan PTS di Balai Pertemuan Situmorang belum lama ini. PTS sudah mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan selama proses pilkada baik administrasi, ini dilakukan mengingat pilkada sebelumnya, PTS terbentur pada munculnya beberapa kandidat dari keturunan PTS.
Sementara itu pasangan Maddin Sihombing/Marganti Manullang, yang sudah mendapat dukungan dari Partai Golkar, sudah melakukan gerakan politik dengan mendirikan center di wilayah kecamatan dan pedesaan.
Tak Laku
Sementara bakal calon bupati/wakil bupati dari jalur perseorangan (independen) dipastikan tidak ada. Sebab hingga hari terakhir ditutupnya pendaftaran dari jalur tersebut, tak satu pun figur yang mengambil formulir.
Ketua KPU Kabupaten Humbang Hasundutan Kosmas Manalu saat dikonfirmasi SINTA menjelaskan bahwa hingga hari terakhir pendaftaran, Selasa (9/2), tidak ada yang mengambil formulir.
“Ya begitulah mungkin, mereka tidak tertarik memakai jalur ini, padahal kita membuka pendaftaran selama satu minggu. Maka dengan ditutupnya pendaftaran, otomatis kandidat dari jalur perseorangan untuk pilkada Humbang Hasundutan periode 2010 – 2015 tidak ada atau kosong ,” jelasnya.
Sementara itu pengamat politik James E Simorangkir berpendapat dalam pengertian secara umum menggambarkan bahwa kondisi beberapa daerah di Kawasan Tapanuli dalam pelaksanaan pilkada nanti sangat memprihatinkan. Menurutnya, ini terbukti dengan minimnya calon bupati di Humbang Hasundutan, termasuk kosongnya kandidat dari jalur perseorangan.
“Ini juga harus diukur dari kemampuan para calon kandidat dalam proses demokrasi ini, terutama dalam memanfaatkan jalur perseorangan. Dengan semakin minimnya calon bupati untuk merebut posisi bupati di kawasan ini, merupakan ‘tamparan’ bagi masyarakat dan parpol dan menjadi sebuah pertanyaan besar,” ujarnya.
Menurut James, kondisi ini banyak dipengaruhi oleh pertimbangan bagi banyak orang yang memprediksi bahwa masyarakat tidak lagi menggunakan akal sehat dan logika dalam memilih pemimpin.
Artinya para kandidat diselimuti kekhawatiran bahwa kemampuan kapabilitas mereka tidak lagi menjadi pertimbangan utama bagi masyarakat, tetapi malah rakyat memanfaatkan pilkada hanya sekedar ajang penghamburan duit yang diberikan para kandidat.
Jika ini yang terjadi di Humbang Hasundutan dan beberapa daerah lain di Kawasan Tapanuli, jelas merupakan kemunduran dalam tatanan demokrasi dan sangat disesalkan. Artinya, siapa yang memberikan uang, itu yang menang. Maka jika rakyat sudah terseret dengan itu, apa masih ada artinya memiliki pemerintahan?, katanya.
Status Incumbent
James juga berpendapat bahwa peraturan perundang-undangan yang tidak mengatur dengan jelas kedudukan incumbent pada saat dirinya ikut dalam Pilkada, juga banyak mempengaruhi banyak figur untuk memilih mundur dari pilkada.
“Kegamangan regulasi ini jelas akan membuat para kandidat lain harus memiliki kekuatan ekstra untuk menandingi incumbent. Jelas ini merupakan kekhawatiran bagi kandidat lain, sebab pada saat bersamaan, incumbent itu memiliki daya kuat terutama dukungan finansial dan mobilitas yang masih optimal di dimanfaatkan,” tandasnya.
Disisi lain dia menyebut, minimnya calon bupati di Kabupaten Humbang Hasundutan bisa jadi karena partai partai pun juga tidak mempunyai visi politik yang jelas, dalam rangka mempersiapkan kader, terutama dalam menentukan calon pemimpin di daerah otonom saat ini. Persoalanya tetap sama, ukuranya tetap uang, siapa yang menyetor paling banyak, itu yang diusung atau didukung.
Revolusi
Secara tegas dia pun menyebutkan sudah saatnya ada revolusi, dalam pengertian ada semacam pertobatan dari aspek spritual, untuk meninggalkan kebiasaan buruk itu. Sekarang, bagaimana agama ( Kawasan Tapanuli mayoritas Agama Kristen) berperan meletakkan etika moral dan spritual bagi kemajuan daerah itu, termasuk dalam melakukan penggembalaan kepada jemaat dalam menentukan pemimpinya.
Disini, peranan tokoh agama dalam membangun sebuah landasan politik masyarakat sangat diperlukan. “Agama sangat berperan memilih seorang pemimpin yang benar,” tegasnya. (JPS/Jannes Purba).
HIMBAUAN UNTUK MASYARAKAT “HUMBAHAS”
PILIHLAH CALON BUPATI YANG BERPIHAK PADA KELESTARIAN HUTAN DAN LINGKUNGAN HIDUP DI TANO BATAK.
SUDAH PASTI MASYARAKAT HUMBAHAS SUDAH MERASAKAN BAGAIMANA PT.TPL TELAH MENGHANCURKAN HUTAN-HUTAN DI TAPANULI DAN MENGAMBIL TANAH ULAYAT MASYARAKAT UNTUK HTI EKALIPTUS.
BUPATI YANG TERPILIH AGAR MENOLAK KEBERADAAN PT.TPL DI TAPANULI DAN TIDAK MENDUKUNG KEBERADAAN PT.TPL DI TAPANULI.
SALAM
LSM. ARIMBA INDONESIA
Oleh: dogol forester on Maret 19, 2010
at 7:00 am
Minimnya pendaftar calon Bupati di Kab. Humbang Hasundutan dapat juga diartikan betapa sulitnya menyaingi Bupati Incumbent yang terkenal dengan keuletan dan prestasinya. Saya pribadi yang kenal dengan beliau sejak bertugas di Jakarta, beliau termasuk orang bersih dan punya prestasi terutama sejak menjabat Sekda Kab. Dairi. Selamat kepada Pasangan Incumben semoga menang.
Drs. Panahatan Sihombing, M.Si
Oleh: Panahatan Sihombing on Maret 19, 2010
at 9:20 am